Buntut Penodaan Al-Quran, Demonstrasi Akbar Warga Bangladesh Ricuh

Pendukung dan aktivis Islami Andolan Bangladesh, sebuah partai politik Islam, ambil bagian dalam protes yang menyerukan boikot produk Prancis dan mengecam Presiden Prancis Emmanuel Macron atas komentarnya atas kartun Nabi Muhammad, di Dhaka, Bangladesh, Oktober 27, 2020. (Foto: Reuters) 


sukabumiNews.net, DHAKA – Unjuk rasa ribuan Muslim di dua kota utama Bangladesh pada Jum’at, 15 Oktober 2021 kemarin berlangsung ricuh. Kericuhan bermula ketika Polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet kepada ribuan pengunjuk rasa.

Aksi unjuk rasa itu merupakan hari ketiga atas terjadinya kasus penodaan agama di negara mayoritas Muslim itu.

Protes dimulai sejak hari Rabu setelah sebuah rekaman muncul menunjukkan sebuah Al-Quran yang diletakkan di atas lutut dewa Hanuman, selama perayaan festival Hindu Durga Puja. Warga hindu hanya berjumlah 10 persen dari populasi di negara tersebut.

Melansir Arrahmah dari AFP, sedikitnya empat orang tewas sejak Rabu malam ketika polisi menembaki kerumunan sekitar 500 orang, yang menyerang sebuah kuil Hindu di Hajiganj, salah satu dari beberapa kota yang dilanda kerusuhan.

“Dua orang Hindu juga tewas dan sekitar 150 lainnya terluka di seluruh negeri,” kata pemimpin masyarakat Gobinda Chandra Pramanik kepada AFP (15/10).

Sedikitnya 80 candi darurat juga diserang. Pihak berwenang belum mengonfirmasi kepastian jumlah korban.

Pada hari Jumat, sedikitnya 2.500 jamaah Muslim berkumpul di luar Masjid Baitul Mukarram, masjid terbesar di Bangladesh di Dhaka tengah. Jemaah menuntut “hukuman adil” bagi pelaku “penodaan” kitab suci Islam.

“Mereka membawa prosesi dan melemparkan sandal dan batu bata ke petugas kami. Kami menembakkan peluru air mata dan peluru karet untuk membubarkan mereka,” kata wakil komisaris polisi Dhaka, Sazzadur Rahman, mengatakan kepada AFP.

Dia mengatakan setidaknya lima petugas terluka dan tiga pengunjuk rasa ditahan.

Seorang fotografer AFP di tempat kejadian mengatakan lebih dari 5.000 orang bergabung dalam aksi protes tersebut.

Pejabat polisi setempat, Bijoy Basak mengatakan di Chittagong, polisi menembakkan 50 peluru kosong untuk membubarkan ratusan pengunjuk rasa Muslim, yang menyerang petugas ketika menjaga kuil Hindu.

Layanan internet ponsel berkecepatan tinggi terpaksa dihentikan sementara di seluruh negeri, untuk mencegah penyebaran kekerasan.

Di tengah kekhawatiran merebaknya aksi tersebut, dan dapat “mengganggu” negera tetangga yang mayoritas Hindu, India, Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina bertemu dengan para pemimpin komunitas dan menjanjikan tindakan tegas terhadap pelaku.

“Sejauh ini sekitar 90 orang telah ditangkap. Kami juga akan memburu semua dalangnya,” kata Menteri Dalam Negeri Asaduzzaman Khan.

Post a Comment

Anda boleh beropini dengan mengomantari Artikel di atas

أحدث أقدم